Feeds:
Pos
Komentar

Perawatan gigi dan mulut pada masa balita dan anak ternyata cukup menentukan kesehatan gigi dan mulut mereka pada tingkatan usia selanjutnya. Beberapa penyakit gigi dan mulut bisa mereka alami bila perawatan tidak dilakukan dengan baik. Di antaranya caries ( lubang pada permukaan gigi), ginggivitis ( radang gusi ), dan sariawan.

Perawatan gigi dan pencegahan gigi berlubang perlu dilakukan tentunya dengan bimbingan orang tua atau orang yang merawat si anak. Berikut langkah-langkahnya:

1. Kurangi mengkonsumsi makanan manis dan mudah melekat pada gigi seperti permen dan coklat, seandainya si anak telah memakannya ajarilah berkumur-kumur dengan air putih sesudahnya. Melarang anak makan permen dan coklat sama sekali dapat menimbulkan dampak psikis pada si anak.

2. Mendidik anak-anak agar rajin mengosok gigi secara teratur dan benar pada pagi, sore dan menjelang tidur. Memberikan pengertian yang dapat dimengerti oleh si anak apabila lupa menggosok gigi. Lebih baik lagi sebenarnya menggosok gigi dilakukan setelah makan.

3. Memberikan makanan yang kaya kalsium (ikan & susu), Fluor (the, daging sapi & sayuran hijau), fosfor, serta vitamin A (wortel), Vitamin C (buah-buahan), Vitamin D (susu), dan Vitamin E (kecambah). Bahan-bahan tersebut sangat diperlukan untuk pertumbuhan gigi.

4. Menjaga bentuk dan kebersihan gigi anak, bila terdapat karang gigi atau caries segera bawa ke dokter gigi untuk dibersihkan atau dirawat.

5. Memeriksakan kesehatan gigi enam bulan sekali.

6. Berkumur dengan air garam dapat dilakukan bila tiba-tiba si anak mengeluh sakit gigi dan bila berlubang dapat ditutup dengan kapas yang sudah ditetesi minyak cengkeh. Berkumur dengan air rebusan sirih dan garam yang hangat bila si anak menderita sariawan.

Tak lama lagi anakku akan lahir, betapa senangnya hidup terasa lebih berarti. Tetapi …aku harus bekerja untuk kebutuhan finansial dan karier, tentunya bersama suami yang juga bekerja. Lalu bagaimana aku dapat mengasuh dan membimbing anakku?.

Banyak informasi telah kudapat dari berbagai sumber tentang mengasuh anak bagi orangtua pekerja, kesimpulannya sebagai berikut:

1. Waktu.
Suatu hubungan dapat terpelihara dengan baik memerlukan waktu, termasuk hubungan orang tua dengan anak. Tidak perlu berjam-jam yang penting orang tua secara konsisten meluangkan waktu bersama anak-anak setiap hari. Dan ketika bersama jauhkan gangguan dan konsentrasikan perhatian kepada si anak.

2. Jadilah pendengar yang baik.
Anak-anak akan menjadi lebih semangat untuk berbagi perasaan dan pikiran ketika kita sebagai orang tuanya mau mendengarkan apa yang mereka katakan. Kepolosan seorang anak tampak dari setiap kata-kata yang diucapkannya. Sebaliknya kalau orang tua sering merendahkan perkataan anak, maka anak akan menarik diri dari orang tua dan ia lebih percaya pada orang lain entah itu pengasuh atau teman. Oleh sebab itu jika kita ingin memiliki pengaruh dalam kehidupan anak, jadilah pedengar yang baik. Timbul kepercayaan anak pada orang tua sehingga setiap kali anak mendapat masalah ia mengijinkan kita untuk membantu mereka.

3. Jangan membiarkan rasa bersalah.
Rasa bersalah akibat seharian kerja di luar rumah seringkali dilampiaskan dengan membiarkan anak berperilaku buruk dan tidak disiplin. Dengan pengertian dan kepercayaan yang sudah ditanamkan ke anak, setiap orang tua tidak perlu ragu lagi untuk bertindak tegas terhadap anak.

4. Tentukan harapan yang jelas.
Setiap orang tua tentunya memiliki harapan pada anaknya. Memberitahu anak apa yang kita harapkan darinya membentuk perilaku yang baik. Jangan ragu melibatkan anak dalam kegiatan sehari-hari. Kebanyakan anak pasti akan mengeluh, dengan kesabaran dan pengertian, kita harus membuat anak senang melakukannya, seperti misalnya rajin belajar ,dsb.

5. Jangan menggantikan kasih sayang atau waktu dengan uang.
Sering kali kita merasa berdosa karena telah meninggalkan anak lalu dengan berbagai upaya kita berusaha menebusnya, salah satunya selalu menuruti keinginan si anak dengan uang. Wujud kasih sayang dapat berupa perhatian, pengajaran, bimbingan, ajakan, menjadi sahabat dsb. Uang merupakan salah satu sarana dalam mewujudkan kasih sayang.

6. Jangan terlau sering gonta-ganti pengasuh.
Kepribadian si anak terbentuk dari lingkungan sekitarnya termasuk didikan dari pengasuh. Sering berganti-ganti pengasuh sangat mempengaruhi psikologis anak. Mengapa? Karena kebijakan setiap pengasuh dalam mendidik anak tentunya berbeda-beda itulah yang menyebabkan si anak mengalami kebingungan dalam menentukan sikapnya. Bekerja sama dengan pengasuh sehingga tercipta hubungan yang harmonis sangat memberikan dampak positif bagi si anak.

7. Kuncinya pengawasan.
Walaupun jarak dan tempat memisahkan orang tua dengan buah hatinya, namun tidak ada alasan bagi orang tua untuk tidak mengawasi perkembangan si anak.Meskipun dijaga oleh pengasuh, kita sebagai orang tua tetap wajib mengawasi setiap perilaku dan perkembangan si anak.

8. Beri perhatian lebih saat ia baik.
Sebuah prestasi layak mendapatkan penghargaan termasuk anak kita bila ia berperilaku baik atau menghasilkan sesuatu yang baik. Penghargaan yang diberikan tidak selalu dalam wujud barang namun dengan kata-kata perhatian, penghargaan membuat si anak lebih dihargai dan merasa diterima di lingkungan keluarganya.

9. Hukuman itu untuk mendidik.
Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Oleh sebab itu kita sebagai orang tua harus mampu mengenal secara dalam karakter anak. Tindakan tegas tentang peraturan-peraturan yang harus diterapkan harus dijalankan dengan baik termasuk didalamya ada sangsi/hukuman apabila dilanggar. Memberikan hukuman sebaiknya tidak dilakukan secara fisik namun didikan yang harus dijalankan secara tegas dan nyata.

10. Berikan teladan dalam membina hubungan.
Anak-anak pasti meniru orang tuanya karena itu kita harus memberikan teladan yang baik bagi anak-anak termasuk dalam menjalin hubungan pada setiap anggota keluarga. Meminta maaf bila bersalah, memberikan penghargaan, suka menolong, memiliki empati, dsb. Bagaimana sifat dan karakter anak tergantung oleh didikan dan teladan dari orang tuanya.

MENGAPA KITA MENGUAP ?

Menguap memang tindakan alamiah yang sudah lumrah. Memang orang mengaitkan kegiatan ini dengan rasa kantuk yang menyerang. Tapi tidak setiap kita menguap terus tidur’kan?

Menurut teori kedokteran, kita menguap karena level oksigen dalam paru-paru kita rendah. Dalam paru-paru terdapat gelembung-gelembung alveoli. Jika tidak mendapat udara segar dalam jumlah cukup, gelembung itu akan kempes seperti balon kekurangan gas. Sebagai akibatnya, paru-paru akan “kejang” sedikit. Untuk mengatasinya otak kita memerintahkann tubuh kita melakukan sesuatu di antarany adalah menguap, agar lebih banyak udara masuk ke dalam paru-paru.

Apakah menguap itu menular? Sebagian orang mengatakan menguap adalah gejala psikologis, kita dapat mengatakan pada diri kita untuk melakukan atu tidak. Atas dasar inilah mereka menganggap bukanlah “tindakan” menular. Kalau menular tentu kita tidak akan bisa mengontrolnya. Sebenarnya tanpa kita sadari menguap adalah “senam kesegaran paru-paru”. Menurut seorang profesor dari Maryland, USA, ketika orang menguap di depan kita , maka tubuh kita akan bereaksi mengatur dirinya sehingga kita dipaksa untuk menguap.

HARUSKAH MINUM SUSU?

Sudah bukan menjadi rahasia, manfaat susu bagi manusia sangatlah besar baik tua dan muda. Namun ada sebagian orang yang sangat menderita ketika ia minum susu. Termasuk seorang teman saya setiap kali habis minum susu perutnya selalu sakit dan kembung seakan-akan perutnya alergi terhadap susu, padahal sebenarnya susu merupakan pelengkap 4 sehat 5 sempurna. Pada sejumlah orang mengonsumsi susu segar memang dapat menyebabkan masalah pencernaan.

Salah satu penyebabnya adalah kurangnya sekresi (pengeluaran hasil kelenjar atau sel secara aktif )enzim galaktosidase, yang harusnya bertugas memecah laktosa (gula susu yg keras, berupa bubuk putih berasa manis, tidak berbau, stabil di udara, larut dl air, berguna dl pembuatan makanan bayi, mentega, dan ragi) di dalam saluran pencernaan. Karena laktosa itu tidak dicerna dengan baik oleh tubuh, di kemudian dipecah oleh bakteri penghasil gas yang terdapat di dalam usus. Menumpuknya gas inilah yang berpotensi menyebabkan sakit perut, perasaan kembung dan tak jarang diikuti diare. Biasanya menyerang orang-orang yang jarang mengonsumsi susu.

Banyak penderita biasanya menyimpulkan dengan gampang, bahwa perutnya antisusu. Semua jenis susu dianggap sebagai musuh nomor satu. Padahal masih ada produk berbahan dasar susu yang justru bisa digunakan untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan susu konvensional, yakni susu fermentasi. Bakteri asam laktat yang terdapat di dalam susu fermentasi dapat memecah laktosa yang tidak dapat dipecah oleh galaktosidase. Laktosa tadi kemudian diubah menjadi asam laktat. Selain itu, kayanya kandungan bekteri asam laktat otomatis membuat kadar gula susu fermentasi menjadi jauh lebih rendah daripada kadar laktosa susu segar. Mereka yang tubuhnya karena alasan tertentu kekurangan enzim galaktosidase bisa tetap minum susu tanpa khawatir saluran pencernaannya bermasalah. Akumulasi asam laktat pada susu fermentasi juga menghambat pertumbuhan mikroba patogen dan pembusuk, sehingga umur simpannya bisa lebih panjang ketimabang susu segar.

Yang termasuk bakteri asam laktat adalah lactobacilli (Lactobacillius), bifidobacteria (Bifidobacterium), dan lactic cocci (Streptococcus, Peptococcus dan Leuconostoc). Berdasarkan jenis bakteri yang digunakan , produk susu fermentasi yang sekarang beredar di pasaran dapat dibagi ke dalam tiga kelompok :

Pertama, susu fermentasi yang dibuat menggunakan bakteri asam laktat yang bukan mikroflora normal di dalam saluran usus.

Kedua, susu fermentasi yang dibuat menggunakan asam laktat yang dapt mencapai usus dalam keadaaan hidup, tetapi bukan penghuni tetap saluran usus.

Ketiga, susu fermentasi yang dibuat dengan memanfaatkan asam laktat mikroflora alami saluran usus. Jika ditambahkan dalam minuman susu fermentasi, bakteri yang disebut terakhir ini dapat mencapai usus dalam kondisi hidup dan menetap di saluran usus. Untuk mengetahui cara pembuatan susu fermentasi, bacalah kemasan masing-masing produk.

Selain bagus buat mereka yang bermasalah dengan enzim pemecah gula susu, minuman fermentasi bagus juga dimanfaatkan untuk menghambat bakteri merugikan. Badan pun jadi lebih kebal penyakit. Bakteri asam laktat juga menghilangkan komponen-komponen penyebab kanker, dengan menekan pertumbuhan bakteri berbahaya penghasil bahan karsinogenik. Dan juga memperkaya nutrisi dengan mensintesis vitamin B kompleks dan meningkatkan penyerapan kalsium. Khusus bakteri asam laktat dari kelompok Bifidobacterium , bahkan dapat memperbaiki sistem metabolisme protein, mencegah sembelit, serta membantu proses pengobatan lever.

Haruskah minum susu? HARUS DONG!

TIPS MENCEGAH GIGI BERLUBANG

Lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Seseorang yang telah menderita sakit gigi tentu dapat merasakan betapa menderitanya menahan rasa sakit gigi. Penyebab terbesar sakit gigi disebabkan oleh karies gigi yaitu infeksi yang merusak struktur (email) gigi, yang menyebabkan gigi berlubang. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, penanggalan gigi, infeksi, berbagai kasus berbahaya, bahkan kematian. Penyebabnya 3 unsur yaitu gigi asli, bakteri yang bisa memfermentasi zat karbohidrat menjadi zat yang bersifat asam, zat karbohidrat yaitu sisa-sisa makanan. Asam yang diproduksi tersebut mempengaruhi mineral gigi sehingga menjadi sensitif pada pH rendah ( < 5,5) proses demineralisasi (berhentinya proses mineralisasi) menjadi lebih cepat dari remineralisasi. Hal ini menyebabkan lebih banyak mineral gigi yang luluh dan membuat lubang pada gigi.

Langkah pencegahan sebenarnya sangat sedehana yaitu menyikat gigi sekitar 20-30 menit sesudah makan agar pH dalam rongga mulut kita kembali normal. Namun tidak mungkin kita selalu membawa sikat gigi dan pasta ketempat umum, karena itu setelah makan dianjurkan secepatnya kumur-kumur dengan air lalu ditelan.Bila harus berada di tempat umum tentu saja dilakukan dengan sopan sehingga tidak menarik perhatian orang. Perlu diperhatikan juga penggunaan bulu sikat gigi kasar juga dapat merusak (email) permukaan gigi. Anjuran terbaik adalah untuk mencegah gigi kita agar tidak berlubang adalah menyikat gigi dua kali sehari, pagi dan malam hari, serta melakukan kumur-kumur dengan kuat SEGERA setelah makan adalah kebiasaan baik. Menunggu sekitar 20-30 menit setelah makan untuk menyikat gigi juga baik untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut.

“Malas ah…! Belajar lagi…! Belajar lagi….!”.

Pernyataan seperti ini sering kali muncul diucapkan seorang anak setiap kali ia harus belajar. Bagaimana seorang anak bisa memperoleh prestasi belajar yang baik jikalau setiap kali memulainya semangat belajarnya sudah pudar.

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua untuk memberikan dan meningkatkan semangat belajar anak:

1. Memberikan Motivasi
“Jikalau kamu mengerti pelajaran ini kamu pasti bisa mengerjakan soal ini”. Kata-kata motivasi harus sering diberikan agar anak dapat mengerti arah dan tujuan belajarnya. Dengan pengertian inilah semangat/dorongan belajarnya dapat tumbuh dengan sendirinya. Tentunya setiap orang tua harus bijaksana dalam memberikan motivasi/tujuan pada setiap anak sesuai dengan usia dan karakter si anak.

2. Menjelaskan Manfaat Belajar
“Dengan belajar, kamu dapat meraih segala cita-citamu, bagaimana kita bisa menjadi dokter jika kita tidak pernah mau belajar”. Dengan menjelaskan manfaat belajar baik untuk masa kini dan masa depan diharapkan setiap anak dapat selalu tekun belajar.

3. Memberi Kesempatan Belajar
Juga berarti tidak menganggu anak saat belajar. Malah seharusnya semampunya kita membimbing dan mengarahkan anak dalam proses belajarnya. Dengan mengajak anak ke perpustakaan, pameran-pameran ilmiah, tempat-tempat bersejarah, diharapkan dapat menimbulkan suasana belajar bagi si anak.

4. Menciptakan Suasana Persaingan
Tentunya persaingan yang sehat dalam arti bukan hanya semata-mata berupa angka tetapi setiap peningkatan yang sudah dicapai. Persaingan dapat dilakukan dengan diri sendiri misalnya dengan mengejar target maupun dengan orang lain.

5. Mencukupi Sarana Belajar
Disesuaikan dengan tingkat kebutuhan anak. Seperti misalnya sarana belajar anak TK (pensil warna, crayon) dan SMP (jangka,busur) tentunya tidak sama.

6. Memberikan Contoh
Anak selalu mencontoh dari lingkungannya termasuk dalam hal belajar. Jika ia sering melihat orang orang di sekelilingnya belajar maka ia pun akan mencontoh.

7. Memberi Hadiah
Ini salah satu wujud penghargaan yang selalu ingin diperoleh oleh setiap anak dalam pencapaian sebuah prestasi. Bentuknya tidak harus selalu materi dapat berupa kasih sayang, perhatian, pujian dll.

Jika anak biasa hidup dicacat dan dicela,
Kelak ia akan terbiasa menyalahkan orang lain.

Jika anak biasa hidup dalam permusuhan,
Kelak ia akan terbiasa menentang dan melawan.

Jika anak biasa hidup dicekam dalam ketakutan,
Kelak ia akan terbiasa merasa resah dan cemas.

Jika anak biasa hidup dikasihani,
Kelak ia akan terbiasa meratapi nasibnya sendiri.

Jika anak biasa hidup diolok-olok,
Kelak ia akan terbiasa menjadi pemalu.

Jika anak biasa hidup dikelilingi perasaan iri,
Kelak ia akan terbiasa merasa bersalah.

Jika anak biasa hidup serba dimengerti dan dipahami,
Kelak ia akan terbiasa menjadi penyabar.

Jika anak biasa hidup diberi semangat dan dorongan,
Kelak ia akan terbiasa percaya diri.

Jika anak biasa hidup banyak dipuji,
Kelak ia akan terbiasa menghargai.

Jika anak biasa hidup diterima lingkungan,
Kelak ia akan terbiasa mencintai.

Jika anak biasa hidup tanpa banyak dipersalahkan,
Kelak ia akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri.

Jika anak biasa hidup jujur,
Kelak ia akan terbiasa memilih kebenaran.

Jika anak biasa hidup mengenyam rasa aman,
Kelak ia akan terbiasa percaya diri dan mempercayai orang –orang di sekitarnya.

Jika anak biasa hidup diperlakukan adil,
Kelak ia akan terbiasa dengan keadilan.

Jika anak biasa hidup mendapat pengakuan dari sekelilingnya,
Kelak ia akan terbiasa menetapkan sasaran langkahnya.

Jika anak biasa hidup ditengah keramah tamahan,
Kelak ia akan terbiasa berpendirian :”Sungguh indah dunia ini !”.

Bagaimana dengan anak anda ?

By Dorothy Low Noffe